Thursday, May 26, 2011

Jejak Kanibalisme Kerajaan Inggris

Bangsawan Inggris memakan bagian tubuh manusia untuk pengobatan.




Kanibalisme bukanlah fenomena dunia ketiga. Keluarga Kerajaan Inggris dilaporkan juga memiliki budaya kanibalisme. Di sana mayat dijadikan obat dan budaya ini bertahan selama ratusan tahun.

Para keluarga bangsawan di Inggris memakan bagian tubuh manusia, menggunakan darah, daging dan tulang sebagai bagian pengobatan hingga akhir abad ke-18.

Dr Richard Sugg, dalam bukunya yang berjudul 'Mummies, Cannibals and Vampires' menyebut, pengobatan dengan bagian tubuh manusia berasal dari meminum dan memakan bubuk mumi. Pengobatan juga dengan memakan lemak, daging, tulang, darah, otak dan kulit manusia.

Dr Suggs yang berasal dari Universitas Durham Inggris menyebut, bahwa bangsa Eropa adalah kanibal nyata. "Tubuh manusia banyak digunakan sebagai agen terapeutik dengan perlakuan yang paling populer melibatkan daging, tulang atau darah," ujarnya seperti dimuat dalam Mirror.co.uk.

Lumut yang diambil dari tengkorak tentara tewas, digunakan sebagai obat untuk mimisan. "Jadi kanibalisme ditemukan bukan hanya di Dunia Baru, tetapi juga di Eropa."

Bukti-bukti nyata yang ada, katanya diantaranya penolakan Raja James I terhadap pengobatan mayat, Raja Charles II membuat obat mayat sendiri, dan Charles I yang mayatnya dibuat menjadi obat.

"Seperti Charles II, pengguna resep dari bahan mayat termasuk Francis I, dokter bedah Elizabeth I Yohanes Banister, Elizabeth Grey, Countess of Kent, Robert Boyle, Thomas Willis, William III, dan Ratu Mary," ucapnya.

Menurutnya, obat mayat disajikan sebagai terapi pada abad pertengahan. Namun masih ada saat revolusi sosial dan ilmiah dari Inggris di awal abad modern terutama saat terjadi peperangan. "Ini bertahan hingga abad ke delapan belas."

Dia menyatakan, di masa kejayaan pengobatan mayat, mayat dan tulang manusia secara rutin diambil dari makam kuburan di Mesir dan Eropa. "Pada abad ke-18, ada impor besar-besaran tengkorak manusia dari Irlandia ke Inggris. Sulit mengatakan ini tidak lebih buruk dari pada perdagangan di masa modern."

Buku yang akan dipublikasikan pada 29 Juni mendatang juga menampilkan sebuah film dokumenter yang merekonstruksi versi obat kanibalistik tua dengan darah, otak dan tengkorak babi.

Sakit Langka, Wanita Ini Lumpuh Jika Tertawa

Ia terkapar saat putrinya menceritakan lelucon. Ia pernah lumpuh 50 kali dalam sehari.



Claire Scott, 24, harus berjuang keras menahan tawa setiap kali mendengar cerita lucu. Bila kelepasan tertawa, tubuhnya langsung lumpuh.

Ibu dua anak itu didiagnosis menderita Cataplexy. Sebuah kelainan langka yang ditandai melemahnya otot secara tiba-tiba akibat emosi yang kuat seperti kegembiraan, ketakutan, terkejut atau marah.

Menahan tawa bukan perkara mudah bagi Claire yang memiliki dua anak kecil lucu dan menyenangkan. Terbukti pekan lalu, ia terkapar setelah putrinya, Ebony, 5, menceritakan sebuah lelucon.

"Putri saya menceritakan lelucon yang membuat saya terbahak-bahak. Saya baru menyadarinya saat suami menggendong saya dari lantai dapur," ujarnya, seperti dikutip dari Daily Mail.

Sangat sulit mengontrol serangan lumpuh itu. Anggota tubuhnya tak dapat bergerak. Hanya pendengaran dan otaknya yang bekerja.

"Kadang-kadang saya sadar sebelum itu terjadi, tapi di lain waktu saya tak sempat menyadarinya. Pandangan tiba-tiba gelap dan tubuh saya lumpuh," kata warga Jersey, di Kepulauan Channel ini.

Ia juga pernah pingsan di tengah jalan gara-gara melihat hal aneh yang membuatnya terkejut. "Sangat memalukan. Saya tak pernah menyangka kapan serangan akan terjadi," ujarnya.

Dokter awalnya menduga kelainan itu akibat kelainan di organ jantungnya. Namun ternyata, serangan tak surut walau telah dipasang alat pacu jantung. Dokter pun mengubah diagnosisnya. Dokter menduga ada kerusakan di saraf leher dan wajah tanpa mampu menjelaskan penyakitnya.

Berdasarkan pemeriksaan dokter ahli saraf dan catatan kesehatannya, Claire didiagnosis menderita Cataplexy tanpa narkolepsi atau gangguan tidur kronis sehingga selalu lelah.

Cataplexy mempengaruhi penderita dengan cara yang berbeda. Ada serangan yang melemaskan otot-otot wajah hingga menghancurkannya. Ini disebabkan berkurangnya jumlah protein yang disebut hypocretin otak.

Usai memiliki anak kedua, yang kini berusia 18 bulan, penyakit Claire makin parah. Di suatu pesta natal, stres mempersiapkan natal serta kebahagiaan membuatnya lumpuh sebanyak 25 kali.

"Sangat sulit tumbuh dewasa dan harus menjelaskan kelainan ini pada orang lain. Tapi itu adalah bagian dari diri saya," kata wanita yang pernah lumpuh 50 kali dalam sehari itu.